ACEH TAMIANG – Kepolisian Resor (Polres) Aceh Tamiang memusnahkan barang bukti (BB) narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 18 kg dengan cara di masukan dalam mesin molen dan kemudian dicampur material semen, pasir dan air selanjutnya dibuang dalam sebuah lubang di perkarangan Mapolres setempat, Kamis (6/4/2017).

Pengamatan tribratanews.polresacehtamiang.com dilapangan, pemusnahan narkotika golongan 1 sejumlah 18 paket tersebut dilakukan secara transparan dengan pengujian teskeasliannya, dihadiri dan disaksikan Bupati Hamdan Sati, ST, Kepala BNN Kabupaten Aceh Tamiang AKBP. Rinaldi, SH, perwakilan Polda Aceh, unsur Forkopimda, Dinkes Aceh Tamiang, para Kapolsek dan jajaran pejabat Polres Aceh Tamiang.

Sebelum dimusnahkan, seluruh paket sabu-sabu dicek dan dites keaslianya oleh tim gabungan dari perwakilan BPOM Banda Aceh, Dinkes Aceh Tamiang dan Polres setempat mengunakan metode cairan khusus, air mineral dan tespek. Setelah beberapa detik, sampel sabu yang dites berubah warna biru membuktikan bahwa barang tersebut benar metavitamin/sabu-sabu.

Kapolres Aceh Tamiang AKBP. Yoga Prasetyo, SIK usai acara pemusnahan narkoba kepada media mengatakan, untuk kesekian kalinya Polres Aceh Tamiang melakukan pemusnahan narkotika jenis sabu-sabu dan hari ini sebanyak 18 kg sabu-sabu telah dimusnahkan. Dari barang bukti tersebut, pihaknya juga menangkap empat orang tersangka yang bertindak sebagai kurir. “Ini menandakan dari barang bukti yang telah kita musnahkan ini, permasalahan kasus narkoba masih relatif tinggi di Aceh Tamiang,” tandas Kapolres.

Yoga melanjutkan, sejak tiga tahun terakhir peredaran narkoba semakin meningkat di Aceh Tamiang. Hal itu ditandai dengan penanganan kasus narkoba sangat singnifikan setiap tahunnya. “Terbukti penangan di 2015 ada 99 kasus, 2016 ada 125 kasus dan untuk 2017 sampai dengan bulan Maret yang sudah kita tangani tercatat sebanyak 30 kasus,” paparnya.

Menurutnya, penanganan narkoba yang sudah ditangani pihaknya sebagian besar berasal dari luar negeri. Karena letak Aceh Tamiang berbatasan langsung dengan perairan Selat Malaka. Berdasarkan keterngan dari ke empat orang pelaku yang telah diamankan, mereka mendapatkan sabu-sabu dari Negara Jiran Malaysia. Kemudian diseludupkan ke Aceh Tamiang melalui jalur laut Selat Malaka.

“Sesuai Nawacita Bapak Presiden Jokowi ingin memberantas peredaran narkoba di Indonesia, maka kita yang berada diperbatasan laut Selat Malaka menjadi prioritas utama. Proaktif dan peran serta dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengambil tindakan Kepolisian minimal dapat memberi informasi peredaran narkoba dilingkungan kita sendiri. Sekecil apapun informasi sangat membantu tugas Kepolisian,” harapnya.

Disisi lain, Kapolres menyebutkan, dalam menanggulangi bahaya narkoba tidak bisa ditangani Polisi sendirian. Pihak terkait termasuk Pemda harus bisa memberi edukasi kepada masyarakat dan pelajar untuk bersinergi dengan Aparat penegak hukum terus digulirkan agar peredaran narkoba dapat berkurang dan bisa ditekan. “Bila ada informasi narkoba disekitar kita segera disampaikan kepada pihak keamanan. Karena bahaya narkoba tidak kenal umur dan pendidikan korbannya. Untuk menanggulanginya harus dengan sinergitritas,” imbaunya.

Menurut AKBP. Yoga Prasetyo, 18 kg sabu-sabu yang telah dimusnakan tersebut jika di rupiahkan senilai Rp 18 miliar. Sementara ke empat pelaku penyelundupan barang haram ini dijerat Pasal 114 dan 115 KUHP dengan hukuman pidana 20 tahun hingga maksimal seumur hidup.

Kasatres Narkoba Polres Aceh Tamiang  Iptu. Wijaya Yudistira Putra, SH kepada tribratanews.polresacehtamiang.com menambahkan, pada 26 Februari 2017 ke empat pelaku yakni SP dan MH membawa dua tas jinjing masing-masing berisikan 9 paket sabu-sabu. Barang haram tersebut akan diselundupkan menggunakan sebuah bus AKAP Royal BL 7301 AA yang dikemudikan pelaku MS dan AL. Mereka dibekuk aparat di jalan Negara lintas Medan-Banda Aceh, Dusun Kamboja, Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

Dijelaskan, tersangka SP dan MH di perintahkan membawa sabu-sabu dari Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang oleh Iyan dan Adi yang saat ini berstatus DPO. Jika sabu tersebut berhasil lolos mereka mendapat imbalan uang Rp 10 juta dari Adi dan Iyan. Sedangkan, tersangka MS dan AL akan membawa sabu tersebut ke Kota Medan dengan bayaran Rp 40 juta sekali berhasil. “Awak bus MS dan AL di perintahkan oleh Ijal status (DPO) sebagai pemesan barang yang menunggu di Medan dengan memberi nomor ponsel 082366789683. Mereka mengaku tidak kenal, namun setelah mereka tiba di Medan disuruh menghubungi nomor tersebut,” papanya.

 

Humas Atam

Riyan Nanda

loading...