ACEH TAMIANG – Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Polda Aceh menggagalkan penyelundupan sabu-sabu jaringan Internasional dari negeri Jiran Malaysia ke Aceh. Dalam pengungkapan kasus tindak pidana narkoba tersebut, BNN mengamankan barang bukti sebanyak 40 Kg sabu dan lima orang tersangka yang salah satunya sebagai koordinir kurir sindikat pemasok sabu dari Malaysia.

Demikian disampaikan Deputi Pemberantasan BNN Pusat, Irjend Pol. Arman Depari, didampingi Kapolres Aceh Tamiang AKBP. Yoga Prasetyo, SIK, Kepala BNNK AKBP. Renaldi, Kabid Penindakan dan Penyidikan Bea dan Cukai Aceh, Tri Utomo, dalam konferensi pers yang digelar di Mapolsek Kejuruan Muda, Polres Aceh Tamiang, Minggu (20/8/2017) pagi.

Ke lima pelaku, ungkap Irjend Pol. Arman Depari, merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) asal Aceh masing-masing berinisial, Mus (41), Zul (40), TM (28), S (39) dan MD (48) yang berperan sebagai kurir dan koodinator kurir. Para pelaku membawa sabu menggunakan kendaraan mobil double cabin Mitsubhisi Strada warna silver BK 9009 DP dengan dikawal oleh koordinator kurir menggunakan mobil Nissan Juke warna putih BK 1876 QU.

Mereka ditangkap Tim BNN di jalan lintas Medan-Banda Aceh, dikawasan Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (18/8/2017) sekitar pukul 19.30 WIB dengan barang bukti dua tas jinjing berisi 40 bungkus sabu-sabu atau seberat 40 Kg. Petugas juga menemukan sebuah paspor atas nama TM. Diduga kuat TM sudah sering keluar masuk Malaysia untuk mengambil barang haram tersebut. “Penangkapan ini dari satu sindikat yang berasal dari Malaysia,” ungkapnya.

Dipaparkan, pengungkapan sabu-sabu di Aceh ini BNN tidak berdiri sendiri, namun merupakan rangkaian rencana dalam operasi bersama BNN, Bea Cukai, Polda Aceh dan Polres Aceh Tamiang setelah sebelumnya BNN menangkap empat orang pelaku dan menyita barang bukti 17 Kg sabu-sabu di daerah Kalimantan Barat (Kalbar), yang diselundupkan melalui jalur darat di lintas perbatasan Negara antara Serawak, Malaysia dan Kalimantan, Indonesia.  Dua dari empat orang tersangka di Kalimantan terpaksa di tembak mati karena coba melawan petugas.

Sedangkan di daerah Aceh sabu-sabu masuk dari jalur perairan pantai timur Sumatera bersandar di pelabuhan tidak resmi pantai Idi Cut, Aceh Utara terjadi pada Jumat (18/8/2017) malam. Kemudian sabu-sabu akan diserahkan kepada sindikat narkoba jaringan Malaysia berinisial Hen (DPO) di Biereun. “Bedanya yang di Kalimantan masuk melalui perbatasan negara jalur darat dan yang di Aceh dari perairan laut,” terang Arman Depari.

Menurut keterangan pelaku, modus operandi yang dilakukan mengambil sabu-sabu menggunakan perahu boat, lalu satu orang pindah ke kapal lain untuk sampai ke Malaysia. Mereka berangkat dari Malaysia biasanya tengah malam untuk menghindari petugas. Mereka bekerja selalu tengah malam hingga waktu subuh.

Menurutnya, sejak awal Agustus 2017 dalam kurun waktu 10 hari BNN sudah melakukan dua kali pengungkapan kasus narkoba dari satu sindikat yang berasal dari Malaysia. Yang pertama di Kalimantan Barat dan yang ke dua di Aceh dengan total tersangka sembilan orang dan barang bukti sebanyak 57 Kg sabu-sabu.

Dari kesimpulan BNN, barang bukti sabu-sabu yang di dapatkan dari Kalimantan Barat dan Aceh secara fisik bentuk dan kemasan identik sama di bungkus kemasan teh. Namun untuk lebih memastikan lagi pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara laboratorium untuk mengetahui bahan kandungan dan menganalisis narkoba tersebut.

BNN memilih melakukan pablis temu pers di Mapolsek Kejuruan Muda, dikarenakan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang rawan perlintasan masuknya narkoba baik lewat darat maupun perairan laut. Selama ini disinyalir narkoba dibawa melalui kapal-kapal nelayan dari Aceh untuk distribusikan ke sejumlah daerah melalui jalan darat.

Dari pengamatan BNN, sabu-sabu yang masuk ke Aceh sebagian di konsumsi lokal dan lebih banyak lagi dikirim ke Sumatera Utara untuk di distribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. “Kami melihat wilayah ini salah satu rawan perlintasan pemasok narkoba, khususnya dari Malaysia. Banyak narkoba masuk ke Aceh melintasi daerah ini disamping untuk di konsumsi lokal dan dikirim ke Sumatera Utara, bahkan di distribusikan lagi keseluruh Indonesia sampai Papua,” ujarnya.

BNN mengklaim, dari sindikat yang sama sudah mengamankan lebih dari 100 Kg narkotika jenis sabu-sabu dari beberapa kali penagkapan termasuk di Aceh. “Kita harapkan dengan terungkapnya pemasok sabu yang terakhir di Aceh ini, penyuplai (sindikat) sabu dari Malaysia ke Aceh bisa berkurang atau terhenti sama sekali,” ungkapnya.

Ditegaskan, petugas BNN dan penegak hukum lainnya jangan ragu menggunakan senjata semaksimal mungkin, untuk melumpuhkan pelaku sindikat narkoba. Secara eksternal BNN juga selalu berkoordinasi dengan aparat TNI, Polri dan Bea dan Cukai serta Pol Air untuk menekan serta mengantisipasi peredaran narkoba masuk ke Indonesia.

Irjen Pol. Arman Depari menambahkan, terhadap aset harta benda milik tersangka yang terkait dengan upaya pencucian uang dari penjualan narkoba akan segera di bekukan. Tujuannya untuk membuat miskin para plaku agar mereka tidak mampu lagi melakukan aktivitas dan mengendalikan peredaran narkoba selamanya.

Selain menyita sabu seberat 40 Kg, BNN juga menyita barang bukti lain berupa dua unit mobil, 15 ponsel, dokumen identitas dan sejumlah kartu ATM. ATM tersebut dapat dipastikan untuk menampung uang dari kejahatan narkoba. Namun begitu pihaknya belum bisa memastikan jumlah saldo yang ada di ATM para pelaku. “Cukup banyak asetnya. Sejumah dari mereka mengaku sudah membangun tiga buah rumah. Kalau aset itu hasil dari narkoba segera disita oleh negara,” tandasnya.

Disebutkan lagi, para tersangka pemasok sabu seberat 40 Kg, terancam pidana maksimal hukuman mati.

Humas Atam
Riyan Nanda

loading...